Pemerintah Korea Selatan sedang melakukan uji coba penghapusan uang koin dari perekonomian negara tersebut.

Alih-alih menerima recehan koin, para pelanggan di toko-toko tertentu bisa mendapat uang kembalian dalam bentuk penambahan saldo pada kartu prabayar, misalnya kartu transportasi.

Menurut Bank of Korea, sebagaimana dikutip dari kantor berita Yonhap, pelanggan tidak perlu lagi membawa uang kembalian berupa uang koin setelah membayar tunai dengan uang kertas.

Sejumlah toko ritail besar turut mengambil bagian dalam skema tersebut. Jika uji coba berhasil, bank-bank akan memperbolehkan uang kembalian langsung ditransfer ke rekening bank mulai tahun depan.

Seperti dilaporkan oleh Korea Herald, hampir dua-pertiga khalayak yang disurvei Bank of Korea mengaku tidak lagi mengantongi uang koin. Bahkan, setengah dari seluruh responden mendukung rencana pemerintah untuk meniadakan uang koin.

Salah satu pendorong langkah tersebut adalah biaya produksi koin dibanding dengan nilai logam yang sebenarnya. Koin 10 won misalnya, bernilai Rp 117.

Adapun koin dengan nilai nominal terbesar adalah 500 won yang setara dengan Rp 5.872.

Data Bank of Korea menunjukkan bahwa negara menghabiskan 53,7 miliar won atau Rp 630,8 miliar untuk memproduksi koin pada tahun 2016.

Cha Hyeon Jin, salah seorang pejabat yang mencetuskan rencana ini, mengatakan bahwa belum ada keputusan jangka panjang soal uang koin.

Bagaimana pun, menurut dia, peluang besar peniadaan uang koin dapat berujung pada masyarakat Korea Selatan yang tidak lagi menggunakan uang tunai di masa depan.

Advertisements