Apakah kamu tahu rompi anti peluru? Rompi ini terdiri dari dari lapisan-lapisan serat untuk menyerap energi laju dari peluru tersebut dan membaginya ke penampang rompi yang luas. Karena energinya sudah terbagi, maka energi peluru tidak cukup lagi untuk dapat menembus rompi atau tubuh pengguna rompi.

Ketika terkena peluru, rompi anti peluru akan mengalami perubahan bentuk karena tekanan dari peluru. Jadi jangan bayangkan kalau rompi anti peluru tetap mulus seperti baru setelah terkena peluru.

Salah satu jenis bahan pembuat rompi anti peluru adalah aramid. Seorang ahli kimia bernama Stephanie Kwolek menemukan aramid di tahun 1964. Aramid adalah singkatan dari aromatic polyamide.

Aramid memiliki struktur yang kuat, alot (tough), memiliki sifat peredam yang bagus (vibration damping), tahan terhadap asam (acid) dan basa (leach), selain itu dapat menahan panas hingga 370°C, sehingga tidak mudah terbakar. Kevlar memiliki berat yang ringan, tapi 5 kali lebih kuat dibandingkan besi.

Tapi sebenarnya, ada bahan pembuat rompi anti peluru selain aramid, yaitu jaring benang laba-laba atau spider silk. Tidak percaya? Jaring benang laba-laba terdiri dari ikatan molekul protein yang panjang.

Benang ini tidak hanya memiliki kemampuan dapat menahan beban yang ekstrem, tapi sekaligus memiliki sifat elastisitas yang sangat tinggi, hingga kalau ditarik dapat memanjang sebanyak 40%. Sifat elastis ini berasal dari butiran-butiran cairan kecil yang terdapat pada benang, yang kalau dilihat bentuknya seperti kalung mutiara atau tasbih.

Nah, jaring laba-laba paling kuat adalah milik bark spider atau Caerostris darwini asal Madagaskar. Kunci kekuatan jaring laba-laba adalah pada elastisitasnya. Jaring laba-laba bark spider sangat elastis bahkan bisa direntangkan hingga 25 meter.

Jaring bark spider 10 kali lebih kuat dari aramid. Tapi, molekul jaring laba-laba ini masih diteliti karena sebenarnya 1 jenis laba-laba bisa membuat 7 jenis jaring yang berbeda-beda.

Advertisements