Wacana pemindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Palangkaraya terus menyeruak. Bahkan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas), sedang mengkaji rencana ini.

Menteri/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan, kajian teknis mengenai pemindahan ibu kota segera dilakukan.

“Yang akan dikaji adalah urgensinya, termasuk kebutuhan menyeimbangkan perekonomian yang sangat terpusat di Jawa dan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi),” katanya, Jakarta, Jumat (7/4/2017).

Ia menambahkan, pemindahan ibu kota sebenarnya bukan ide baru. Rencana itu sudah ada sedari era pemerintahan Presiden Soekarno.

“Wacana (pemindahan ibu kota) dari sejak Bung Karno,” ujar dia.

Indonesia pun jika jadi memindahkan ibu kota, akan mengikuti langkah dari beberapa negara lain.

Namun, tidak semua kebijakan pemindahan ibu kota berakhir manis. Ada pula negara yang harus menerima kenyataan bahwa keputusan tersebut salah langkah.

Ibu kota yang digadang-gadang jadi metropolitan baru bahkan kosong melompong mirip ‘kota hantu’.

Berikut pengalaman 8 negara memindahkan ibu kota yang dirangkum di bawah ini:

1.Nigeria

2.jpg

Dahulunya, ibukota Nigeria terletak di Lagos. Namun, pada tahun 1991, pemerintah negara dengan ekonomi terbesar di Afrika ini memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahannya ke Abuja.

Posisi Abuja cukup jauh dari Lagos. Jaraknya mencapai 482 kilometer dari arah Timur Laut ibukota lama itu.

Pemindahan ini relatif berbuah manis. Permasalahan yang menimpa Nigeria seperti kepadatan penduduk yang hanya terjadi di Lagos serta pemerataan ekonomi satu per satu mulai bisa diselesaikan oleh Nigeria.

2. Myanmar

3.jpg

Pemindahan ibukota Myanmar, dari Yangoon ke Naypyidaw disebut-sebut sebagai peristiwa paling unik dalam sejarah.

Keputusan yang diambil pada November 2005 ini didasari atas keputusan pemimpin junta militer Jenderal Than Shwe. Tidak ada penjelasan sama sekali, mengapa ibu kota harus dipindahkan.

Banyak yang menuduh perpindahan itu adalah gagasan egois Jenderal Than Shwe. Dugaan yang paling nyeleneh dan dinilai tidak masuk logika adalah pemindahan dikarenakan oleh ramalan dari dunia mistik yang membuat Than ketakutan.

Ramalan itu menyebutkan bahwa kekuasaan Sang Jenderal tinggal sejengkal. Bintangnya segera meredup dan nyaris padam pada April 2006.

“Ramalan itu mengatakan pemerintah akan jatuh Bulan April,” kata salah satu mantan jurnalis Myanmar, seperti dimuat Boston Globe, 1 Januari 2006.

Saat pertama kali ibukota dipindahkan, para pegawai negeri dan militer Myanmar, itu seperti tinggal di pengungsian. Menetap di bangunan yang belum rampung, tanpa air bersih dan listrik seperti di kota Yangoon.

Hidup serba susah, kurang gizi, di tengah hutan pula, membuat mereka jadi sasaran empuk serdadu hutan Myanmar yang sangat berbahaya, yaitu nyamuk malaria. Banyak yang menyerah, tapi tidak kuasa kabur dari kota itu.

Situasi pada 2016 lalu tidak banyak berubah. Naypyidaw mempunyai fasilitas yang relatif lengkap, jalan tol lebar, tempat main golf, kebun binatang yang dilengkapi dengan AC untuk para penguin, akses Wi-Fi cepat, dan aliran listrik yang lantar tanpa byarpet.

Yang tidak dipunyai kota itu hanya satu, yaitu penduduk yang dinamis. Dengan luas 4.800 km persegi atau 4 kali ukuran Kota New York, Naypyidaw relatif kosong.

Data resmi menyebutkan, penduduk di sana mencapai 1 juta jiwa. Namun, banyak yang meragukannya. Pada Minggu siang, jalanan sunyi, restoran dan lobi hotel nyaris kosong.

3. Brasil

4.jpg

Pada tahun 1960, Presiden Brasil pada saat itu, Juscelino Kubitschek membuat keputuan besar. Ibu kota dipindah dari Rio de Janeiro ke Brasilia.

Alasan utama pemindahan itu adalah untuk mengembangkan wilayah pedesaan yang terbelakang, menstimulasi pembangunan pertanian, penyebaran penduduk dan pendapatan.

Pada masa awal, pemerintah begitu susah memindahkan organ-organ pemerintahan. Tahun 2010 lalu, Brasilia memperingati 50 tahun sejarahnya menjadi ibu kota. Meski memiliki sejumlah bangunan yang spektakuler yang mendapat pengakuan UNESCO — sejak dinobatkan sebagai pusat pemerintahan — Brasilia bagaikan kota ‘tanpa jiwa’.

Beredar lelucon di kalangan pendatang, baik dari Brasil maupun luar negeri. Kata mereka, “Hiburan terbaik yang ada di Brasilia adalah bandaranya.” Terutama ketika mereka meninggalkan kota itu.

4. Tanzania

5.jpg

Negara yang terletak di Afrika ini ibukotanya sempat berlokasi di Dodoma. Walaupun kota utama, nyatanya kehidupan di Dodoma jalan di tempat tidak ada perkembangan berarti yang terjadi.

Yang riuh dan meriah justru kota Dar es Salaam. Kota tersebut jauhnya 450 kilometer dari Dodoma.

Keputusan pemindahan akhirnya diambil pada era 1970-an. Tapi sampai sekarang, transisi masih belum sepenuhnya dilakukan.

Majelis Nasional Tanzania tetap berada di Dodoma. Sementara seluruh kedutaan asing dan kantor pemerintah telah berada di Dar es Salaam.

5. Kazakhstan

6.jpg

Kazakhstan merupakan salah satu negara yang paling muda di dunia. Ia berdiri setelah Uni Soviet runtuh pada awal 1990-an.

Awalnya, ibu kota Kazakhstan adalah Almaty. Namun, pada Desember 1997, mereka memidahnya ke bagian utara negara tersebut, tepatnya di Kota Astana.

Alasan yang diambil pemerintah adalah Almaty sudah tidak bisa dikembangkan lagi. Kota ini juga rentan terhadap gempa.

Selain itu, dasar lain yang jadi pertimbangan adalah Almaty letaknya sangat dekat dengan negara baru pecahan Uni Soviet lain. Ditakutkan, bila ada turbulensi politik di negara-negara tersebut maka bisa menular ke dalam Kazakhtsan.

Keputusan tersebut ternyata tepat. Sampai sekarang, Kazakhstan merupakan negara sangat berkembang dan salah satu pusat ekonomi terbesar di kawasan Asia Tengah.

6. Malaysia

7.jpg

Tidak bisa dipungkiri, sama seperti ibukota negara di Asia Tenggara lain, Kuala Lumpur harus berhadapan dengan masalah kemacetan dan kepadatan penduduk.

Pada tahun 1999, Pemerintah Malaysia mengambil keputusan memindahkan pusat pemerintahan ke Putrajaya.

Putrajaya merupakan sebuah kota baru dan mandiri. Letaknya berada di Selatan Kuala Lumpur dan tidak jauh dari sana.

Kantor Perdana Menteri dipindahkan ke Putrajaya. Namun, tidak demikian dengan Gedung Parlemen dan pusat perekonomian yang tetap berada di Kuala Lumpur.

 

Advertisements