Pada zaman yang semakin modern ini, menjadi salah satu penyebab harga barang-barang kebutuhan semakin melonjak.

Bagi mereka yang merupakan masyarakat kelas bawah, tentunya merasa semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan pendapatan yang menjanjikan.

Namun, ada sebagian orang yang justru semakin meningkat secara keuangan dari hari ke hari. Kekayaan yang telah mereka miliki semakin menggunung atau bertambah.

Dalam benak kita pasti bertanya-tanya, mengapa orang kaya bisa semakin kaya dan yang miskin malah sebaliknya?

Nah, bagi Anda yang penasaran dengan hal tersebut, simaklah berikut ini adalah 5 alasan si kaya makin kaya dan si miskin makin miskin, Sabtu (15/4/2017):

1. Orang Kaya Punya Visi, Orang Miskin Sulit Mengontrol

Orang kaya biasanya memiliki visi yang jelas di mana mereka paham betul tentang kehidupan yang bagaimana yang akan mereka hadapi.

Mereka membuat visi sedemikian rupa, memuat gambaran dan strategi hidup yang jelas. Visi tersebutlah yang menjadi motivasi untuk terus berjuang meski mereka telah mengalami kegagalan.

Sedangkan orang miskin cenderung tidak memiliki visi yang jelas dalam hidupnya. Lebih dikatakan sulit mengontrol keuangan mereka dan hidup serba sangat pas-pasan bahkan kekurangan. Pendapatan yang mereka peroleh hampir seluruhnya untuk hidup dan kekurangan uang membuat mereka sulit berpikir ke depan.

Visi yang jelas ibarat peta yang akan membawa pemiliknya mencapai tujuan. Sedangkan mereka yang tak punya visi yang jelas dan hanya melihat arah angin, akan terus dalam keresahan.

2. Orang Kaya Punya Mimpi Besar, Orang Miskin Banyak Bicara

Kebanyakan orang kaya berani bermimpi besar, yang terkadang sangat tinggi, tidak masuk akal dan mustahil untuk dicapai. Keberanian yang mereka punya itu diwujudkan dengan usaha dan kerja keras untuk mewujudkannya.

Lain halnya dengan orang miskin, mereka takut untuk bermimpi besar dan cenderung menutupi ketakutannya tersebut dengan banyak bicara. Begitu banyak alasan yang diucapkan oleh mereka hanya untuk menutupi ketidakmampuannya.

Mereka terlalu fokus pada kehidupan saat ini dan tidak berpikir luas bahwa masa depan cerah bisa diraih asal mau kerja keras.

3. Orang Kaya Berpikir Menang, Orang Miskin Takut Kalah

Ketika menghadapi persaingan, orang kaya berpikir strategis untuk bisa memenangkannya. Persaingan adalah hal yang biasa. Kalah ataupun menang merupakan konsekuensi yang harus diterima.

Sebaliknya, orang miskin takut akan kekalahan dari sebuah persaingan. Mereka tak punya cukup keberanian untuk mengadu nasib dan cenderung merasa cukup dengan apa yang telah mereka miliki saat ini.

Kebanyakan orang miskin enggan mencoba peluang baru dan mengeluarkan modal besar untuk mencapai kesuksesan keuangan.

4. Orang Kaya Lihat Peluang, Orang Miskin Lihat Rintangan

Orang kaya selalu melihat ke depan dan fokus pada peluang. Mereka rela berjuang keras demi mencapai kesuksesan. Mereka tidak takut jikalau menemukan suatu permasalahan dalam proses meraih kesuksesan dan mereka akan menyelesaikannya satu per satu.

Namun orang yang miskin dalam hal mentalitas, mereka akan fokus pada hambatan bukan tujuan. Mereka lebih suka mengeluh dan takut gagal. Orang semacam ini tidak akan berkembang.

5. Perbedaan Komitmen

Biasanya perbedaan nasib seseorang ditentukan dari konsistensinya menjalankan komitmen. Orang kaya akan berusaha menentukan tujuan, berusaha keras dan berkomitmen dalam pekerjaannya, tidak akan menyerah sampai mencapai tujuan.

Orang miskin juga memiliki impian, namun mereka tidak memiliki komitmen yang kuat sehingga mudah menyerah. Mereka merasa tidak mampu untuk berkomitmen dalam meraih kesuksesan finansial. Padahal jika mereka memiliki kemauan, kesuksesan finansial bisa mereka raih dengan mudah.

6. Fokus pada Tujuan Bukan Hambatan

Orang yang kaya dan dapat mempertahankan kekayaannya itu karena mereka fokus pada tujuan, bukan hambatan. Mereka menyiapkan diri sebaik mungkin agar mampu menghadapi segala rintangan yang menghadang.

Sedangkan orang miskin dan masih tetap miskin dikarenakan mereka selalu mempertimbangkan hambatan, merasa berat dan takut akan hal-hal yang menjadi ancaman ketika mereka hendak berjuang sehingga yang ada justru sulit untuk mulai bergerak dan tidak bisa fokus meraih tujuan.

Advertisements