Semenanjung Korea semakin memanas. Setelah USS Carl Vinson merapat ke area ‘panas’ itu, kini sejumlah kapal perang Jepang dilaporkan akan bergabung.

Bergabungnya kapal perang Jepang berasal dari informasi 2 pejabat tinggi Negeri Sakura itu.

Pernyataan mereka, seperti dikutip dari kantor berita Jepang, Kyodo, mengatakan bahwa beberapa kapal perusak (destroyer) dari Angkatan Laut Jepang akan bergabung dengan USS Carl Vinson dan kapal perang lainnya menuju Laut China Timur.

Sumber-sumber di pemerintahan Jepang mengatakan, mereka akan bergabung dalam latihan bersama termasuk pendaratan heli di salah satu kapal serta latihan komunikasi.

USS Carl Vinson dilengkapi dengan 2 reaktor nuklir dan mampu membawa 100 pesawat terbang.

Langkah Jepang itu diambil setelah Presiden China Xi Jinping meminta seluruh negara bersikap tenang menghadapi naiknya tensi di Korea Utara.

Pernyataan Xi diungkapkan dalam telepon dengan Donald Trump setelah sebelumnya kedua pemimpin itu bertemu di Amerika Serikat.

“China bertekad untuk mencapai tujuan denuklirisasi di Semenanjung Korea, menjaga keamanan dan stabilitas di kawasan, serta mengadovkasi masalah lewat jalan damai,” kata Xi Jinping.

Pernyataan Xi diungkapkan setelah Donald Trump berkicau bahwa pihaknya menekan China agar lebih aktif lagi memaksa Korea Utara untuk menghentikan program senjata nuklirnya.

Kapal perang Amerika Serikat dikerahkan setelah sebelumnya berencana mengunjungi Australia.

Armada tersebut berlayar menuju utara dari Singapura menuju Semenanjut Korea.

Sementara, spekulasi perang akan bergelora berkembang setelah desas-desus mengatakan bahwa Pyongyang merencanakan untuk melontarkan kembali misil di sejumlah hari perayaan negeri itu.

Uji Coba Misil?

Para pengamat Korea Utara percaya, rezim Kim Jong-un akan melakukan uji coba misil pada perayaan ke-105 hari lahir Kim Il-sung pada Sabtu 15 April mendatang, atau akan melakukannya pada peringatan 85 tahun hari lahir militer Korea Utara yang jatuh pada 25 April.

Sejauh ini, China adalah negara penting bagi hubungan diplomasi Korea Utara serta menjadi partner dagang utama Pyongyang.

Ada tanda-tanda jika China akan mengambil langkah untuk menghentikan Korea Utara dan pemimpinnya, Kim Jong-un. Beijing dilaporkan mengusir kapal kargo Korea Utara yang membawa batu bara.

Untuk mengurangi kekurangan keperluan batu bara, China telah mulai mengimpor dari Amerika Serikat. Impor batu bara ini adalah pertama kalinya setelah 2 tahun hubungan Washington Beijing yang mendingin.

Media-media China telah melaporkan adanya kewaspadaan tingkat tinggi bahwa perang di Semenanjung Korea kian mungkin terjadi.

Opini tabloid pemerintah China, Global Times merilis bahwa warga Tiongkok tidak setuju dengan Korea Utara dan meminta aksi lebih keras lagi termasuk menolak impor minyak mentah dari Korea Utara.

Sementara itu, diplomat senior Jepang mengatakan, keikutsertaaan negaranya adalah bagian dari untuk menekan Korea Utara agar setuju melakukan perdamaian diplomatik.

Meski digembor-gemborkan bahwa Korea Utara akan menabuh genderang perang pada Sabtu mendatang, pengamat Korea Utara mengatakan uji coba nuklir tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Namun, Korea Utara sendiri telah berkoar bahwa mereka mengancam akan adanya konsekuensi besar jika Amerika Serikat terus meprovokasi mereka. Pernyataan itu dikeluarkan setelah Carl Vinson memilai perjalanannya menuju Semenanjung Korea.

“Amerika Serikat sepenuhnya bertanggung jawab atas konsekuensi bencana yang akan mereka tanggung dengan tindakan keterlaluannya itu,” kata media corong Kim Jong-un Korean Central News Agency mengutip seorang juru bicara kementerian luar negeri.

“Korea Utara siap untuk bereaksi terhadap modus perang yang diinginkan oleh Amerika Serikat.”

Advertisements