Belum lama ini, media sosial Twitter tengah diramaikan tentang kasus hutang piutang, adalah seorang travel blogger yang bernama Mita M. Supardi yang mengaku merasa ditipu oleh seorang wanita yang dikenalnya dalam perjalanan ke Korea Selatan.

Wanita berinisial FP ini meminjam uang dalam jumlah kecil namun frekuensinya sering. Saat akan ditagih, FP tidak kunjung membayar hutang itu namun bisa membeli barang-barang mewah dan mahal. Merasa kesal, Mita mencoba untuk menagih hutang melalui media sosial. Foto wanita yang berutang dipajang. Lalu, kronologi kasusnya diceritakan secara gamblang.

Ternyata, banyak yang berkomentar soal kasus ini. Banyak yang pernah senasib dengan Mita. Tidak sedikit juga yang mengenal FP dan sama-sama menjadi ‘korban’.

Meski begitu, ada juga yang mengkritik cara seperti ini untuk menyelesaikan hutang. Beberapa komentar menyayangkan bentuk penagihan lewat media sosial yang bisa membuat persoalan jadi melebar.

Lantas, apa pendapat para pakar?

Psikolog Anna Surti Ariani mengatakan bahwa memang ada orang yang sulit ditagih hutangnya walaupun sudah dicoba dengan berbagai cara. Pihak yang terhutang ini sudah kehabisan akal dalam menagih utangnya sehingga sosial media dimanfaatkan sebagai alternatif lain dalam menagih hutang.

“Orang yang menagih hutang sudah kehabisan akal bagaimana cara untuk menagihnya, kemudian dia menggunakan sosial media. Cara ini mungkin efektif bagi orang yang malu kalau diumumkan hutangnya,” tutur psikolog yang akrab disapa Nina, Minggu (9/4).

16.jpg

Namun menurut ibu 2 anak ini, hal tersebut dirasa kurang efektif jika orang yang ditagih memang jarang update di sosial media atau memang dia tidak punya uang untuk membayar hutangnya.

Pendapat lain datang dari pakar media sosial Nukman Luthfie. Menurutnya, menagih hutang merupakan masalah pribadi yang seharusnya tidak sesumbar ke publik. Jika memang pihak pengutang tidak bisa membayar kewajibannya, hal itu bisa langsung masuk ke ranah hukum.

“Jika sudah dibawa ke media sosial tidak benar sebetulnya, terlebih lagi jika itu sepihak. Karena banyak faktornya, nanti ada anggapan yang ngehutang itu tukang nipu atau lain sebagainya,” kata Nukman, Minggu (9/4).

Nukman melanjutkan, jika hutang ditagih melalui sosial media, dikhawatirkan akan timbul persepsi yang tidak baik terhadap si pengutang. Dia menegaskan jika masalah hutang piutang, hendaknya diselesaikan secara pribadi tanpa dibawa ke ranah sosial media.

Advertisements