Setelah baru gajian, biasanya apa yang kamu lakukan? Menabung dulu, langsung membeli barang yang sudah diidam-idamkan sejak lama, atau makan makanan enak di restoran sebagai hadiah atas kerja keras selama sebulan?

Dua hal yang terakhir disebutkan sebenarnya wajar dilakukan. Tapi jangan menjadi kebiasaan, karena kalau target kamu utnuk menjadi kaya, kamu harus melakukan penghematan.

Ternyata penghematan tidak hanya dilakukan sejak masa berjuang. Setelah kaya raya pun, para miliarder ini tetap lebih senang menjalani hidup mereka yang sederhana. Siapa saja mereka?

Warren Buffett

Dengan estimasi kekayaan mencapai US$ 78 miliar, Warren Buffett bisa sarapan dengan kaviar atau menu mewah lainnya. Namun, orang terkaya nomor 3 di dunia ini tetap setia dengan menu sarapan seharga tidak lebih dari US$ 3,17 (Rp 42.000) keluaran McD.

Sehari-harinya, Buffet membeli sarapannya dengan cara drive-thru di McD terdekat dalam perjalanannya ke kantor. Bahkan, dia pernah berujar, “Ketika aku merasa tidak cukup kaya, aku lebih memilih burger dengan 2 sosis ditambah dengan sekaleng soda.”

Padahal pada kenyataannya, Buffet memegang lebih dari 9 % saham dari perusahaan soda tersebut. Ini artinya Buffet bisa minum soda kapan saja tanpa harus membeli paketan McD.

T. Boone Pickens

Meskipun sudah sukses di sektor minyak dan gas, T. Boone Pickens memperluas ladang uangnya di bidang finansial dan investasi. Pada tahun 2012, Picken berada di ranking 913 dalam daftar miliarder dunia versi Forbes.

Namun, kini dia tidak termasuk ke dalam daftar, karena telah menyumbangkan lebih dari US$ 1 miliar kekayannya untuk amal. Pengarang buku ‘The First Billion is the Hardest’ selalu menggunakan barang sampai benar-benar rusak. Ini artinya, dia tidak akan membeli barang baru jika barang lama masih bisa dipakai.

“Kalau aku ingin membeli sesuatu, aku akan benar-benar mempertimbangan kualitasnya supaya bisa dipakai dalam waktu yang lama. Aku masih memakai sepatu yang aku beli tahun 1957,” katanya dalam wawancara tahun 2011.

Tidak hanya sepatu, Pickens juga membatasi jumlah pakaian di lemarinya. “Orang-orang selalu terkejut karena aku tidak punya banyak baju. Aku hanya membeli jas setiap tiga atau lima tahun sekali dan total yang kumiliki hanya 10 potong. Karena memang ini yang aku butuhkan.”

Mitt Romney

Mitt Romney merupakan pendiri dari firma ekuitas Bain Capital. Melalui pekerjaannya sebagai konsultan manajemen dan investor ekuitas, dia memiliki kekayaan yang mencapai US$ 230 juta. Dengan jumlah demikian, mungkin kamu membayangkan Romney naik pesawat kelas bisnis atau jet pribadi setiap berpergian.

Sebaliknya, justru Romney terobsesi dengan tiket pesawat murah. “Memang itu pesawat murah (low cost airlines) dan aku duduk di tengah-tengah. Tapi, yang penting aku dapat tiket termurah.”

David Cheriton

Setiap investor pasti memimpikan menjadi investor pertama di sebuah perusahaan yang kemudian menjadi besar seperti Microsoft, Facebook, dan Apple. Kemujuran ini dimiliki oleh David Cheriton, seorang profesor yang menjadi kaya lewat investasi.

Tahun 1998, Cheriton menandatangani cek senilai US$ 100.000 untuk investasi awal Google. Sekarang, uang yang diinvestasikan Cheriton bernilai US$ 4,2 miliar.

Hingga kini, profesor miliarder ini telah menginvestasikan US$ 50 juta pada 17 startup dan perusahaan. Namun dengan kekayaan sebanyak itu, dia tetap memilih memotong sendiri rambutnya seperti waktu belum jadi miliarder.

Alasannya, hanya karena dia bisa lebih menghemat waktu. Ya, bagi para miliarder, waktu sama berharganya seperti uang.

Advertisements