Seorang pengemudi mobil Ferarri di Thailand yang diduga telah melakukan aksi tabrak lari, hidup bebas dalam kemewahan sebagai pewaris tahta brand minuman ternama, Red Bull. Dia adalah si Boss.Usai menabrak pengendara motor yang merupakan seorang polisi bernama Wichean Glanprasert, Vorayuth “Boss” Yoovidhya, pewaris tahta Red Bull, hidup bebas selama 5 tahun. Padahal, jelas-jelas dia adalah pelaku penabrakan berdasarkan sejumlah barang bukti.

Kisah ketidakadilan hukum di Thailand ini menjadi sorotan publik. Pada kecelakaan tersebut, tubuh Wichean terseret sejauh ratusan meter, sebelum kemudian mobil Ferrari yang dikendarai Yoovidhya menghilang.

12.jpg

Polisi yang kemudian melakukan investigasi, mengikuti jejak rem mobil dari TKP yang kemudian membawa mereka ke kediaman sang pewaris tahta Red Bull di Thailand.Polisi sendiri juga sudah beberapa kali memanggil Yoovidhya untuk menjalani proses hukum, namun dia berdalih dengan seribu alasan mulai dari sakit, pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis dan alasan lainnya. Sampai 5 tahun berjalan, kasus tersebut tidak pernah terselesaikan. Si Boss tidak pernah dihukum.

13

Bahkan, pada beberapa pekan lalu setelah kecelakaan nahas tersebut, Yoovidhya masih menikmati kemewahan hidup sebagai pewaris tahta Red Bull. Dia terbang dengan jet pribadi, muncul di deretan kursi VIP dan menonton balapan tim Red Bull, dan berkendara dengan Porsche Carrera hitam di London dengan pelat mobil khusus bertuliskan B055 RBR, yang merupakan singkatan dari Boss Red Bull Racing.

Wichean adalah Polisi Yang Baik

Pornanan Glanprasert, saudara kandung dari Wichean Glanprasert tidak pernah menduga, kematian adik bungsunya begitu nahas.

Seperti kisah-kisah film yang mengharukan, Pornanan menceritakan bagaimana sang adik merupakan satu-satunya yang bisa bersekolah dan pergi ke luar dari kebun kelapa di desa dan bekerja di pemerintahan.“Dia membiayai semua kebutuhan orang tua kami hingga mereka meninggal dan membayar biaya perawatan kakak perempuannya yang terkena kanker. Dia tidak mempunyai anak, tapi dia berencana untuk membiayai sekolah keponakannya hingga kuliah. Dia bahkan sering bercanda pada keponakannya bahwa kelak mereka yang akan merawatnya saat tua nanti.”

14.jpg

Kehidupan keluarga sederhana ini pun seketika hancur saat kabar duka itu menghampiri mereka pada 3 September 2012. Wichean Glanprasert dilaporkan menjadi korban kecelakaan tabrak lari di Sukhumvit Road, Bangkok. Kecelakaan berdarah yang menjadi headline di berbagai media nasional Thailand selama berhari-hari. Komisaris Polisi Comronwit Toopgrajank menjanjikan keadilan.

“Kami tidak akan membiarkan polisi ini mati tanpa keadilan,” ujarnya saat kasus tersebut masih menjadi bola panas. Dia menambahkan,bahwa keadilan dan kebenaran pasti akan terungkap.

Sayangnya hal tersebut tidak juga terjadi hingga dia pensiun pada 2014 silam. “Saya kecewa,” ujarnya.

15.jpg

Yoovidhya dikabarkan telah memberikan uang kompensasi kepada keluarga Wichean Glanprasert senilai $100.000 dolar atau setara dengan Rp 1.331.800.000. Uang tersebut harus dibayar dengan menandatangani surat perjanjian yang menyatakan bahwa keluarga Wichean tidak akan menuntut atau mengambil tindakan hukum apapun.
Pornanan mengungkap uang tersebut masih ada di bank. Dia menyebutnya sebagai uang berdarah.

Juru bicara kepolisian Kolonel Krissana Pattanacharoen mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan segala daya dan upaya untuk menahan Yoovidhya dan mereka juga sudah menginformasikan kepada pengacara Yoovidhya bahwa dia harus muncul di kantor kejaksaan untuk mendengar dakwaan pada 30 Maret 2017.”Saya tidak mengatakan ini adalah kasus di mana orang kaya bisa bebas dari hukum,” kata Krissana.

“Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi apa yang ingin saya bisa jawab adalah, jika Anda melihat tenggat waktu di sini dan apa yang kita lakukan, sejauh ini tidak ada yang salah dari penyelidikan kasus ini,” tambah Krissana.

Prayuth Petchkhun, juru bicara kantor kejaksaan, mengatakan kasus ini sedang dikaji karena penyelidikan tambahan diperlukan. Namun dia sendiri tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan ‘penyelidikan tambahan’ tersebut.

16.jpg

Professor hukum Universitas Thammasat, Pokpong Srisanit mengatakan bahwa situasi ini ‘tidak normal’. “Ada masalah dengan hukum Thailand,” katanya.

Ini bukanlah kasus pertama ‘orang kaya’ terbebas dari jerat hukum di Thailand. Tahun lalu, seorang anak dari pengusaha kaya raya di Thailand menghantam mobil lain dengan Mercedes Benznya pada kecepatan tinggi. Kecelakaan ini menyebabkan 2 orang meninggal dunia. Kasusnya kini masih ditunda di pengadilan.

17.jpg

Pada tahun 2010, seorang remaja di bawah umur menabrak sebuah mobil dan menyebabkan 9 nyawa melayang. Remaja tersebut datang dari keluarga berpengaruh. Dia mendapat 2 tahun masa percobaan dan tidak menyelesaikan masa hukuman layanan sosialnya hingga tahun lalu.

Advertisements