Perdana Menteri Inggris, Theresa May, mengecam keras aksi teror yang mengguncang negaranya pada Rabu, 22 Maret 2017. Menurutnya, teroris sengaja melaksanakan aksi terornya tersebut di Westminster, jantung kota London, untuk menghancurkan nilai-nilai keberagaman.

“Lokasi itu bukanlah sebuah kebetulan. Teroris memilih menyerang di jantung ibukota kami, dimana orang dari segala kebangsaan, agama, dan kebudayaan datang bersama untuk merayakan nilai-nilai kebebasan, demokrasi, dan kebebasan berpendapat,” ujar May.

Namun menurut May, upaya untuk menghancurkan nilai-nilai itu gagal total. Tidak lama setelah insiden itu saja, para netizen langsung menyampaikan solidaritas mereka dengan mengunggah pesan dengan tanda pagar #WeAreNotAffraid. Para kepala negara asing juga mengucapkan belasungkawa.

Meskipun pelaku dan motif serangan ini belum diketahui, kepolisian Inggris mengatakan bahwa insiden ini akan diselidiki layaknya serangan teroris. Hingga kini, polisi masih menghimpun informasi dan baru menginformasi bahwa jumlah korban tewas akibat insiden ini mencapai 4 orang.

“Empat orang tewas, termasuk diantaranya seorang polisi yang menjaga gedung parlemen, juga pria yang diyakini sebagai pelaku penyerangan yang ditembak mati oleh petugas kepolisian,” ujar seorang pejabat senior kontra teroristme Inggris, Mark Rowley. Rowley menurutkan, insiden ini bermula ketika sebuah mobil melaju kencang di Jembatan Westminster, menabrak pejalan kaki, serta melukai setidaknya 3 petugas kepolisian yang sedang berada di lokasi.

Mobil itu kemudian ditabrakkan ke pagar pembatas. Setidaknya, 1 orang pelaku dilaporkan turun dari mobil dan berlari ke arah Gedung Parlemen, dan menikam seorang petugas keamanan, sebelum akhirnya ditembak mati oleh polisi.

“Kami sudah mendeklarasikan ini sebagai insiden teroris dan komando kontra-terorisme akan melakukan investigasi skala penuh atas kejadian ini,” kata Rowley.

 

Advertisements